Rabu, 12 Oktober 2011

LAPORAN PENDAHULUAN ASMA BRONKHIAL


LAPORAN PENDAHULUAN
ASMA BRONKHIAL

1.      Definisi
Asma berasal dari bahasa Yunani yang berarti terengah-engah dan berarti serangan nafas pendek. Asma adalah penyakit jalan nafas yang terjadi karena spasme bronchus, disebabkan oleh berbagai penyebab. (Sylvia.A.Price,1995). Asma merupakan suatu gangguan pada saluran bronchial dengan cirri bronkospasme periodik (kontraksi spasme pada saluran napas). Asma merupakan penyakit kompleks yang dapat diakibatkan oleh faktor biokimia, endokrin, infeksi, otonomik, dan psikologi.
2.      Tipe Asma
Asma dapat dibagi dalam tiga kategori, yaitu :
1)      Asma Alergika atau asma ekstrinsik
Ditemukan pada sebagian kecil pasien dewasa dan disebabkan oleh alergan yang diketahui. Astma jenis ini biasanya dimulai pada masa kanak-kanak dengan riwayat keluarga yang mempunyai penyakit atopik, contoh: demam jerami, eksema , dermatitis, dan asma sendiri.
2)      Asma Idiopatik atau asma intrinsic
Asma jenis ini lebih sering ditemukan pada usia 40 tahun keatas , dengan serangan yang timbul sesudah infeksi sinus hidung atau percabangan trakheo bronkhial . Makin lama serangan makin sering dan makin hebat, sehingga keadaan ini akhirnya berkelanjutan menjadi bronchitis kronikdan kadang-kadang emfisema.
3)      Asma Campuran.
Merupakan bentuk yang paling sering menyerang pasien . Asma jenis ini terdiri dari komponen-komponen kedua macam asma diatas. Kebanyakan pasien dengan asma intrinsic akan berlanjut menjadi bentuk campuran.
3.      Etiologi
Sampai saat ini, etiologi asma belum diketahui dengan pasti. Namun suatu hal yang sering kali terjadi pada semua penderita asma adalah fenomena hiperakivitas bronchus. Bronkus penderita asma sangat peka terhadap rangsang imunologi maupun nonimunologi. Karena sifat tersebut, maka serangan asma mudah terjadi akibat berbagai rangsangan fisik, metabolism, kimia, allergen, infeksi, dan sebagainya. Faktor penyebab yang sering menimbulkan asma perlu diketahui dan sedapat mungkindihindarkan. Faktor-faktor tersebut adalah:
a.       Faktor predisposisi
Genetik
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.
b.      Faktor presipitasi
1)      Alergi
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
a)   Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan. Contoh : debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi
b)      Ingestan, yang masuk melalui mulut. Contoh : makanan dan obat-obatan
c)    Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit. Contoh : perhiasan, logam dan jam tangan
2)      Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau.
3)      Stress
Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguan emosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.
4)      Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.
5)      Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani atau olah raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.
4.      Gambaran Klinis
Gejala asma terdiri atas triad: dispnea, batuk, dan mengi (bengek atau sesak napas). Gejala sesak napas sering dianggap sebagai gejala yang harus ada (‘sine qua non’). Hal tersebut berarti jika penderita menganggap penyakitnya adalah asma namun tidak mengeluhkan sesak napas, maka perawat harus yakin bahwa pasien bukan menderita asma.
Gambaran klinis pasien yang menderita asma:
a.  Gambaran objektif yang ditangkap perawat adalah kondisi pasien dalam keadaan seperti di bawah ini:
·         Sesak napas parah dengan ekspirasi memanjang disertai wheezing.
·         Dapat disertai batuk dengan sputum kental dan sulit dikeluarkan
·         Bernapas dengan menggunakan otot-otot napas tambahan
·         Sianosis, takikardia, gelisah, dan pulsus paradoksus
·         Fase ekspirasi memanjang disertai wheezing (di apeks dan hilus).
b.      Gambaran subjektif yang ditangkap perawat adalah pasien mengeluhkan sukar bernapas, sesak, dan anoreksia.
c.  Gambaran psikososial yang diketahui perawat adalah cemas, takut, mudah tersinggung, dan kurangnya pengetahuan pasien terhadap situasi penyakitnya.
5.      Patofisologi
Asma akibat alergi tergantung kepada respon IgE yang dikendalikan oleh limfosit T dan B. asma diaktifkan oleh interaksi antara antigen dengan molekul IgE yang berkaitan dengan sel mast. Sebagian besar allergen yang menimbulkan asma bersifat airbone. Allergen tersebut harus tersedia dalam jumlah banyak dalam periode waktu tertentu agar mampu menimbulkan gejala asma. Namun di lain kasus terdapat pasien yang sangat responsive, sehingga jumlah kecil allergen masuk ke dalam tubuh sudah dapat mengakibatkan eksaserbasi penyakit.
Obat yang paling sering berhubungan dengan induksi fase akur asma adalah aspirin, bahan pewarna seperti tartazin, antagonis beta-adrenergik, dan bahan sulfat. Sindrom khusus pada system pernapasan yang seinsitif terhadap aspirin terjadi pada orang dewasa, namun dapat pula dilihat pada masa kanak-kanak. Masalah ini biasanya berawal dari rhinitis vasomotor perennial lalu menjadi rhinosinusitis hiperplastik dengan polip nasal dan akhirnya diikuti oleh munculnya asma progresif.
Pasien yang sensitive terhadap aspirin dapat dikurangi gejalanya dengan pemberian obat setiap hari. Setelah menjalani bentk terapi ini, toleransi silang Akan terbentukterhadap agen anti inflamasi nonsteroid.
Antagonis beta-adrenergik merupakan hal yang biasanya menyebabkan pbstruksi jalan naas pada pasien asma, demikian juga dengan pasien lain dengan peningkatan reaktivitas jalan napas. Oleh karena itu, antagonis beta-adrenergik harus dihindarkan pada pasien tersebut. Senyawa sulfat yang secara luas digunakan sebagai agen sanitasi dan pengawet dalam industry makanan dan farmasi juga dapat menimbulkan obstruksi jalan napas akut pada pasien yang sensitive. Senyawa sulfat tersebut adalah kalium metabisulfit, kalium dan natrium bisulfit, natrium sulfit, dan sulfat klorida. Pada umumnya tubuh akan terpapar setelah menelan makanan atau cairan yang mengandung senyawa tersebut seperti salad, buah segar, kentang, kerang, dan anggur.
Faktor penyebab yang telah disebutkan di atas ditambah dengan sebab internal pasien akan mengakibatkan timbulnya reaksi antigen dan antibody. Reaksi tersebut mengakibatkan dikeluarkannya substansi pereda alergi yang sebetulnya merupakan mekanisme tubuh dalam menghadapi seerangan, yaitu dikeluarkannya histamine, bradikinin, dan anafilatoksin. Sekresi zat-zat tersebut menimbulkan tiga gejala seperti berkontraksinya otot polos, peningkatan permeabilitas kapiler, dan peningkatan sekresi mucus seperti terlihat pada gambar berikut ini.
Untuk melihat derajat beratnya asma biasanya dilakukan pemeriksaan secara komprehensif dengan menggunakan alat ukur seperti pada tabel 2.
Tabel 4-1 Pengkajian untuk menentukan derajat berat asma
Manifestasi Klinis
Skor 0
Skor 1
a.       Penurunan toleransi beraktivitas
b.      Penggunaan otot napas tambahan, adanya retraksi interkostal
c.       Wheezing
d.      Respiratory rate per menit
e.       Pulse rate per menit
f.       Teraba pulsus paradokus
g.      Puncak Expiratory Flow Rate (L/menit)
Ya
Tidak ada

Tidak ada
< 25
< 120
Tidak ada
>100
Tidak
Ada

Ada
>125
>120
Ada
< 100
Keterangan: Jika terdapat skor empat atau lebih, maka pasien diperkirakan mengalami asma berat. Selanjutnya pasien harus diobservasi untuk menentukan ada tidaknya respons dari terapi atau segera dikirim kee rumah sakit.

Tabel 4-2 Perubahan dalam arteri blood gas yang berhubungan dengan asma

Ringan
Sedang
Berat
Status Asmatikus
PO2

PCO2

pH
Meningkat

Menurun

Alkalosis
Normal sampai hipoksemia ringan
Menurun sampai normal
Alkalosis
Hipoksemia

Meningkat

Alkalosis
Hipoksemia berat

Peningkatan jelas

Asidosis
6.      Penatalaksanaan
Prinsip-prinsip penatalaksanaan asma bronchial:
a.       Diagnosis status asmatikus. Faktor penting yang harus diperhatikan adalah:
1)      Waktu terjadinya serangan
2)      Obat-obatan yang telah diberikan (jenis dan dosis)
b.      Pemberian obat bronchodilator
c.       Penilaian terhadap perbaikan serangan
d.      Pertimbangan terhadap pemberian kortikosteroid
e.       Setelah serangan mereda:
1)      Cari faktor penyebab
2)      Modifikasi pengobatan penunjang selanjutnya
7.      Tanda dan gejala
a.       Dyspnea
b.      Bunyi nafas wheezing / mengi.
c.       Ekspirasi yang memanjang.
d.      Batuk – batuk disertai sputum kental
e.       Tachicardi
f.       Gelisah
g.      Berkeringat
h.      Cyanosis bibir dan kuku
i.        Penggunaan otot bantu pernafasan  
8.      Obat-obatan
a.       Pengobatan
1)      Pasien diobati dengan agonos beta (misalnya, metaproterenol, tebultalin, dan algluterol.
2)      Bronkodilator
Misalnya :
-          Aminophyline,
-          Theophyline.( biasanya diberikan per-oral (ditelan); tersedia dalam berbagai bentuk, mulai dari tablet dan sirup short-acting sampai kapsul dan tablet long-acting.Pada serangan asma yang berat, bisa diberikan secara intravena (melalui pembuluh darah)).
Fungsi : merangsang pelebaran saluran udara
Cara kerja : bekerja dalam beberapa menit, tetapi efeknya hanya berlangsung selama 4-6 jam.
3)      Kortikosteroid
Misalnya : Beclomethasone
4)      Terapi oksigen
Terapi oksigen dilakukan mengatasi Dyspnue, sianosis, dan hipoksemia. Oksigen aliran rendah yang dilembabkan baik dengan masker atau katetar hidung di berikan. Aliran oksigen yang diberikan didasarkan pada nilai-niali gas darah.PaO2 dipertahankan antara 65 dan 85 mmHg pemberian sedatif merupakan kontra indikasi.
b.      Cairan
Pasien membutuhkan cairan intravena untuk hidrasi.

Sumber:
Somantri, irman. 2008. Keperawatan Medikal Bedah: Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar